Keterampilan Dasar Mengajar
Keterampilan dasar mengajar (teaching skill) adalah kemampuan
atau keterampilan yang keterampilan yang bersifat khusus yang harus dimiliki
oleh guru, dosen,instruktur, atau widyaiswara agar dapat melaksanakan tugas
mengajar secara efektif, efisien dan profesional (As. Glicman, 1991). Dengan
demikian keterampilan dasar mengajar berkenaan dengan beberapa kemampuan atau
keterampilan yang bersifat mendasar dan melekat harus dimiliki dan
diaktualisasikan oleh setiap guru, dosen, instruktur, atau widyaiswara dalam
melaksanakan tugas mengajarnya.
8 Keterampilan
Dasar Mengajar:
1. Keterampilan Dasar Bertanya
Keterampilan bertanya, bagi seorang
guru merupakan keterampilan yang sangat penting. Sebab melalui keterampilan ini
guru dapat menciptakan suasana pembelajaran lebih bermakna. Para ahli percaya
pertanyaan yang baik memiliki dampak positif terhadap siswa, di antaranya:
1) Bisa meningkatkan partisipasi siswa
secara penuh dalam proses pembelajaran.
2) Dapat meningkatkan kemampuan
berpikir siswa, sebab berpikir itu sendiri pada hakikatnya bertanya.
3) Dapat membangkitkan rasa ingin tahu
siswa serta menuntun siswa untuk menentukan jawaban.
4) Memusatkan siswa pada masalah yang
sedang dibahas.
Pertanyaan menurut Taksonomi Bloom:
1) pertanyaan pengetahuan atau ingatan
dengan menggunakan kata-kata apa, di mana, kapan, siapa, dan sebutkan.
2) Pertanyaan pemahaman yaitu
pertanyaan yang menghendaki jawaban yang bersifat pemahamn dengan kata-kata
sendiri.
3) Pertanyaan penerapan yaitu
pertanyaan yang menghendaki jawaban untuk menerapkan pengetahuan atau informasi
yang diterimanya.
4) Pertanyaan sintesis yaitu pertanyaan
yang menghendaki jawaban yang benar, tidak tunggal, tetapi lebih dari satu dan
menuntut murid untuk membuat ramalan (prediksi), memecahkan masalah, mencari solusi.
5) Pertanyaan evaluasi yaitu pertanyaan
yang menghendaki jawaban dengan cara memberikan penilaian atau pendapatnya
terhadap suatu isu yang ditampilkan.
2. Keterampilan Dasar Memberikan
Penguatan
Keterampilan dasar penguatan adalah
segala bentuk respons yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru
terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan untuk memberikan informasi atau
umpan balik bagi siswa atas perbuatan atau responsnya yang diberikan sebagai
suatu dorongan atau koreksi. Dengan demikian, fungsi keterampilan penguatan
adalah untuk memberikan ganjaran kepada siswa sehingga siswa akan berbesar hati
dan meningkatkan partisipasinya dalam setiap proses pembelajaran.
Ada dua jenis penguatan yang biasa
diberikan oleh guru, yaitu penguatan verbal dan nonverbal.
1) Penguatan Verbal
Penguatan verbal adalah penguatan
yang diungkapkan dengan kata-kata, baik kata-kata pujian atau penghargaan atau
kata-kata koreksi. Misalnya, ketika diajukan sebuah pertanyaan kemudian siswa
menjawab dengan tepat , maka guru memuji siswa dengan mengatakan : “Bagus!”,
“Tepat sekali”, dan lain sebagainya.
2) Penguatan Nonverbal
Penguatan nonverbal adalah penguatan
yang diungkapkan melalui bahasa isyarat. Misalnya melalui anggukan kepala tanda
setuju, gelengan kepala tanda tidak setuju, mengernyitkan dahi, mengangkat
pundak, dan lain sebagainya. Selain itu, penguatan nonverbal juga dapat
dilakukan dengan memberikan tanda-tanda tertentu, misalnya penguatan dengan
melakukan sentuhan (contact) dengan berjabat tangan atau menepuk-nepuk
pundak siswa setelah siswa memberikan respon yang bagus.
Beberapa hal yang harus diperhatikan
dalam memberikan penguatan agar penguatan itu dapat meningkatkan motivasi
pembelajaran.
A. Kehangatan dan Keantusiasan
Sikap
dan gaya guru, termasuk suara, mimik, dan gerak badan akan menunjukkan adanya
kehangatan dan keantusiasan dalam memberikan penguatan. Hindari kepura-puraan
atau tindakan penguatan yang mengada-ada.
B. Kebermaknaan
Yakinkan
pada diri siswa bahwa penguatan yang diberikan guru adalah penguatan yang
wajar, sehingga benar-benar bermakna untuk siswa. Hindari penguatan yang
berlebihan, sebab penguatan yang demikian justru akan mematikan motivasi siswa.
Siswa hanya akan merasa direndahkan.
C. Gunakan penguatan yang bervariasi
Penguatan
yang sejenis dan dilakukan berulang-ulang dapat menimbulkan kebosanan sehingga
tidak efektif lagi untuk membangkitkan motivasi belajar siswa. Oleh sebab itu,
penguatan perlu dilakukan dengan teknik yang bervariasi.
D. Berikan penguatan dengan segera
Penguatan
perlu diberikan segera setelah muncul respons atau tingkah laku tertentu.
Penguatan yang ditunda pemberiannya tidak akan efektif lagi dan kurang
bermakna.
3. Keterampilan Variasi Stimulus
Variasi stimulus adalah suatu
kegiatan guru dalam konteks proses interaksi belajar-mengajar yang ditujukan
untuk mengatasi kebosanan murid sehingga dalam situasi belajar-mengajar, murid
senantiasa menunjukkan ketekunan, antusiasme, serta penuh partisispasi.
Adapun tujuan dan manfaat dari
variasi stimulus yaitu.
a) Untuk menimbulkan dan meningkatkan
perhatian siswa kepada aspek-aspek belajar-mengajar yang relevan.
b) Untuk memberikan kesempatan bagi
berkembangnya bakat ingin mengetahui dan menyelidiki pada siswa tentang hal-hal
baru.
c) Untuk memupuk tingkah laku positif
terhadap guru dan sekolah dengan berbagai cara mengajar yang lebih hidup dan
lingkungan belajar yang lebih baik.
d) Guru memberikan kesempatan kepada
siswa untuk memperoleh cara menerima pelajaran yang disenanginya.
Teknik-teknik yang dapat digunakan
dalam melakukan variasi stimulus adalah sebagai berikut.
1. Variasi pada Waktu Melaksanakan
Proses Pembelajaran
A. Penggunaan variasi suara (teacher
voice)
Variasi
suara adalah perubahan suara dari keras menjadi lembut, dari tinggi menjadi
rendah, dari cepat berubah menjadi lambat, dari gembira menjadi sedih, atau
pada suatu saat memberikan tekanan pada kata-kata tertentu.
B. Pemusatan perhatian
Memusatkan
perhatian siswa kepada hal-hal yang dianggap penting dapat dilakukan oleh guru.
Misalnya dengan perkataan “Perhatikan ini baik-baik”, atau “Nah, ini penting
sekali”, atau “Perhatikan dengan baik, ini agak sukar dimengerti”.
C. Kebisuan guru
Adanya
kebisuan yang tiba-tiba dan disengaja selagi guru menerangkan sesuatu merupakan
alat yang baik untuk menarik perhatian siswa. Perubahan stimulus dari adanya
suara kepada keadaan tenang atau senyap, atau adanya kesibukan atau kegiatan
lalu dihentikan akan dapat menarik perhatian karena siswa ingin tahu apa yang
terjadi.
D. Mengadakan kontak pandang (eye
contact)
Bila
guru sedang berbicara atau berinterksi dengan siswanya, sebaiknya pandangan
menjelajahi seluruh kelas dan melihat ke mata murid-murid untuk menunjukkan
adanya hubungan yang intim dengan mereka. Kontak pandang dapat digunakan untuk
menyamapaikan informasi dan untuk mengetahui perhatian atau pemahaman siswa.
E. Gerak guru (teacher movement)
Variasi
dalam ekspresi wajah guru, gerakan kepala, dan gerakan badan adalah aspek yang
sangat penting dalam berkomunikasi. Gunanya untuk menarik perhatian dan untuk
menyampaikan arti dari pesan lisan yang dimaksudkan.
2. Variasi dalam Penggunaan Media dan
Alat Peraga
Media atau alat peraga bila ditinjau
dari indera yang digunakan, dapat digolongkan ke dalam tiga bagian, yakni dapat
didengar, dilihat, dan diraba. Pergantian penggunaan jenis media yang satu
kepada jenis yang lain mengharuskan anak menyesuaikan alat inderanya sehingga
dapat mempertinggi perhatiannya karena setiap anak mempunyai perbedaan
kemampuan dalam menggunakan alat inderanya. Ada yang termasuk tipe visual,
auditif, dan motorik.
Variasi
penggunaan media dan alat pembelajarn dapat dilakukan sebagai berikut:
A. Dengan menggunakan variasi media
yang dapat dilihat (visual) seperti menggunakan gambar, slide, foto,
bagan, dan lain-lain.
B. Variasi alat atau media yang bisa
didengar (auditif) seperti menggunakan radio, musik, deklamasi, puisi, dan lain
sebagainya.
C. Variasi alat atau bahan yang dapat
diraba, dimanupulasi, dan digerakkan (motorik). Pemanfaatan media
semacam ini dapat menarik perhatian siswa, sebab siswa dapat secara langsung
dapat membentuk dan memperagakan kegiatannya, baik secara perorangan maupun
secara berkelompok. Yang termasuk ke dalam alat dan media ini adalah berbagai
macam peragaan, model, dan lain sebagainya.
D. Variasi alat atau bahan yang dapat
didengar, dilihat, dan diraba. Penggunaan alat jenis ini merupakan tingkat yang
paling tinggi karena melibatkan semua indera yang kita miliki. Yang termasuk ke
dalam alat atau media ini adalah film, televisi, radio, slide projector
yang diiringi penjelasan guru, tentu saja penggunaannya disesuaikan dengan
tujuan pengajaran yang hendak dicapai.
3. Variasi dalam berinteraksi
Pembelajaran adalah proses interaksi
antara siswa dengan lingkungannya. Pola interaksi guru dengan murid dalam
kegiatan belajar-mengajar sangat beraneka ragam coraknya, mulai dari kegiatan yang
didominasi oleh guru sampai kegiatan sendiri yang dilakukan anak. Hal ini
bergantung pada keterampilan guru dalam mengelola kegiatan belajar-mengajar.
Penggunaan variasi pola interaksi ini dimaksudkan agar tidak menimbulkan
kebosanan, kejemuan, serta untuk menghidupkan suasana kelas demi keberhasilan
murid dalam mencapai tujuan.
4.
Keterampilan Menjelaskan
Yang dimaksud dengan keterampilan
menjelaskan dalam pengajaran adalah penyajian informasi secara lisan yang
diorganisasi secara sistentis untuk menunjukkan adanya hubungan yang satu
dengan yang lainnya, misalnya antara sebab dan akibat, definisi dengan contoh
atau dengan sesuatu yang belum diketahui. Pemberian penjelasan merupakan salah
satu aspek yang amat penting dari kegiatan guru dalam interaksinya dengan siswa
di dalam kelas. Dan biasanya guru cenderung lebih mendominasi pembicaraan dan
mempunyai pengaruh langung, misalnya dalam memberikan fakta, ide, ataupun
pendapat
Tujuan memberikan penjelasan adalah:
a. Membimbing murid untuk mendapat dan
memahami hukum, dalil fakta, definisi, dan prinsip secara objektif dan
bernalar.
b. Melibatkan murid untuk berpikir
dengan memecahkan masalah-masalah atau pertanyaan.
c. Untuk mendapat balikan dari murid
mengenai tingkat pemahamannya dan untuk mengatasi kesalahpahaman mereka.
d. Membimbing murid untuk menghayati
dan mendapat proses penalaran dan menggunakan bukti-bukti dalam pemecahan
masalah.
Komponen-komponen keterampilan
menjelaskan yaitu.
a. Merencanakan
Penjelasan yang diberikan oleh guru
perlu direncanakan dengan baik, terutama yang berkenan dengan isi pesan dan
penerimaan pesan. Yang berkenan dengan isi pesan (materi) meliputi
penganalisaan masalah secara keseluruhan, penentuan jenis hubungan yang ada di
antara unsur-unsur yang dikaitkan dan penggunaan hukum, rumus atau generalisasi
yamg sesuai dengan hubungan yang telah ditentukan.
b. Penyajian suatu penjelasan
Penyajian
suatu penjelasan dapat ditingkatkan hasilnya dengan memperhatikan hal-hal
berikut:
1.
Kejelasan
Penjelasan hendaknya diberikan dengan menggunakan bahasa yang
mudah dimengerti oleh siswa, menghindari penggunaan ucapan-ucapan seperti “e”,
“aa”, “mm”, “kira-kira”, “umumnya”, “biasanya”, “sering kali” dan
istilah-istilah yang tidak dapat dimengerti oleh anak.
2.
Penggunaan
contoh dan ilustrasi
Dalam memberikan penjelasan sebaiknya digunakan
contoh-contoh yang ada hubungannya dengan sesuatu yang dapat ditemui oleh siswa
dalam kehidupan sehari-hari.
3.
Pemberian
tekanan
Dalam memberikan penjelasan, guru harus memenuhi perhatian
siswa kepada masalah pokok dan mengurangi informasi yang tidak begitu penting.
Dalam hal ini guru dapat menggunakan tanda atau isyarat lisan seperti “Yang
terpenting adalah”, “Perhatikan baik-baik konsep ini”, atau “Parhatikan, yang
ini agak sukar”.
4.
Penggunaan
balikan
Guru hendaknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk
menunjukkan pemahaman, keraguan atau ketidakmengertiannya ketika penjelasan itu
diberikan. Hal ini dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan seperti “Apakah
kalian mengerti dengan penjelasan tadi?” Juga perlu ditanyakan, “Apakah
penjelasan tadi bermakna bagi kalian?” dan sebagainya.
5. Keterampilan Membuka dan Menutup
Pelajaran
Membuka pelajaran atau set
induction adalah usaha yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran
untuk menciptakan prakondisi bagi siswa agar mental maupun perhatian terpusat
pada pengalaman belajar yang disajikan sehingga akan mudah mencapai kompetensi
yang diharapkan. Dengan kata lain, membuka pelajaran itu adalah mempersiapkan
mental dan perhatian siswa agar terpusat pada hal-hal yang akan dipelajari.
Kegiatan membuka pelajaran tidak
hanya dilakukan oleh guru pada awal jam pelajaran, tetapi juga pada awal setiap
penggal kegiatan inti pelajaran yang diberikan selama jam pelajaran itu. Hal
tersebut dapat dilakukan dengan cara mengemukakan tujuan yang akan dicapai,
menarik perhatian siswa, memberi acuan, dan membuat kaitan antara materi
pelajaran yang telah dikuasai oleh siswa dengan bahan yang akan dipelajarinya.
Secara khusus tujuan membuka pelajaran yaitu:
1) Menarik perhatian siswa, yang bisa dilakukan
dengan:
a. Meyakinkan siswa bahwa materi atau
pengalaman belajar yang akan dilakukan berguna untuk dirinya.
b. Melakukan hal-hal yang dianggap aneh
bagi siswa, misalnya dengan menggunakan alat bantu.
c. Melakukan interaksi yang
menyenangkan.
2) Menumbuhkan motivasi belajar siswa,
yang dapat dilakukan dengan:
a. Membangun suasana akrab sehingga
siswa merasa dekat, misalnya menyapa dan berkomunikasi secara kekeluargaan.
b. Menimbulkan rasa ingn tahu, misalnya
mengajak siswa untuk mempelajari suatu kasus yang sedang hangat dibicarakan.
c. Mengaitkan materi atau pengalaman
belajar yakan dilakukan dengan kebutuhan siswa.
3) Memberikan acuan atau rambu-rambu
tentang pembelajaran yang akan dilakukan dengan:
a. Mengemukakan tujuan yang akan
dicapai serta tugas-tugas yang harus dilakukan dalam hubungannya dengan
pencapaian tujuan.
b. Menjelaskan langkah-langkah atau
tahapan pembelajaran, sehingga siswa memahami apa yang harus dilakukan.
c. Menjelaskan target atau kemampuan
yang harus dimiliki setelah pembelajaran berlangsung.
Menutup
pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru untuk mengakhiri pelajaran dengan
maksud untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang apa ang telah dipelajari
siswa serta keterkaitannya dengan pengalaman sebelumnya, mengetahui tingkat
keberhasilan siswa, serta keberhasilan guru dalam pelaksanaaan proses
pembelajaran.
Menutup pelajaran dapat dilakukan
dengan cara:
1. Merangkum atau mebuat garis-garis
besar persoalan yang baru dibahas, sehingga siswa memperoleh gambaran yang
menyeluruh dan jelas tentang pokok-pokok persoalan.
2. mengonsolidasikan perhatian siswa
terhadap hal-hal yang pokok agar informasi yang telah diterima dapat
membangkitkan minat untuk mempelajari lebih lanjut.
3. mengorganisasikan kegiatan yang
telah dilakukan untuk membentuk pemahaman baru tentang materi yang telah
dipelajarinya.
4. memberikan tindak lanjut serta
saran-saran untuk memperluas wawasan yang berhubungan dengan materi pelajaran
yang telah dibahas.
6. Keterampilan Membimbing Diskusi
Kelompok Kecil
Diskusi kelompok adalah suatu proses
yang teratur yang melibatkan sekolompok orang dalam interaksi tatap muka yang
informal dengan berbagai pengalaman atau onformasi, pengambilan kesimpulan,
atau pemecahan masalah.
Komponen keterampilan membimbing diskusi yaitu:
1. Memusatkan perhatian siswa pada
tujuan dan topik diskusi caranya adalah sebagai berikut:
a. Rumuskan tujuan dan topic yang akan
dibahas pada awal diskusi.
b. Kemukakan masalah-masalah khusus.
c. Catat perubahan atau penyimpangan
diskusi dari tujuan.
d. Rangkum hasil pembicaraan dalam
diskusi.
2. Memperluas masalah atau urunan
pendapat
Selama diskusi berlangsung sering terjadi penyampaian ide
yang kurang jelas hingga sukar ditangkap oleh anggota kelompok, yang akhirnya
menimbulkan kesalahpahaman hingga keadaan menjadi tegang. Dalam hal demikian
tugas guru dalam memimpin diskusi untuk memperjelasnya, yakni dengan cara:
a. Menguraikan kembali atau merangkum
urunan tersebut hingga menjadi jelas.
b. Meminta komentar siswa dengan
mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membantu mereka memperjelas atau
mengembangkan ide tersebut.
c. Menguraikan gagasan siswa dengan
memberikan informasi tambahan atau contoh-contoh yang sesuai hingga kelompok
memperoleh pengertian yang lebih jelas.
3. Menganalisis pandangan siswa
Dalam diskusi sering terjadi perbedaan di antara anggota
kelompok. Dengan demikian guru hendaklah mampu menganalisis alas an perbedaan
tersebut dengan cara sebagai berikut:
a. Meneliti apakah lasan tersebut
memang mempunyai dasar yang kuat.
b. Memperjelas hal-hal yang disepakati
dan yang tidak disepakati.
4. Meningkatkan urunan siswa
Beberapa
cara unuk meningkatkan urunan pikiran siswa adalah:
a. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan
yang menantang siswa untuk berpikir.
b. Memberikan contoh-contoh verbal atau
nonverbal yang sesuai dan tepat.
c. Memberikan waktu untuk berpikir.
d. Memberikan dukungan terhadap
pendapat siswa dengan penuh perhatian.
5. Menyebarkan kesempatan
berpartisipasi
Penyebaran
kesempatan berpartisipasi dapat dilakukan dengan cara:
a. Mencoba memancing urunan siswa yang
enggang berpartisipasi dengan mengarahkan pertanyaan langsung secara bijaksana.
Misalnya, “Bapak (Ibu) yakin bahwa Andi dapat menjawab. Coba, Andi!”
b. Mencegah terjadinya pembicaraan
serentak dengan memberi giliran kepada siswa yang pendiam terlebih dahulu.
c. Mencegah secara bijaksana siswa yang
suka memonopoli pembicaraan.
d. Mendorong siswa untuk mengomentari
urunan temannya hingga interaksi antarsiswa dapat ditingkatkan.
6. Menutup diskusi
Keterampilan
akhir yang harus dikuasai oleh guru adalah menutup diskusi. Hal ini dapat
dilakukan dengan cara sebagai berikut.
a. Membuat rangkuman hasil diskusi
dengan bantuan para siswa. Ini lebih efektif daripada bila rangkuman hanya
dibuat sendiri oleh guru.
b. Memberi gambaran tentang tindak
lanjut hasil diskusi ataupun tentang topik diskusi yang akan datang.
c. Mengajak siswa untuk menilai proses
maupun hasil diskusi yang telah dicapai.
7. Hal-hal yang harus diperhatikan.
a. Mendominasi diskusi sehingga siswa
tidak diberi kesempatan.
b. Membiarkan siswa tertentu memonopoli
diskusi.
c. Membiarkan terjaadinya penyimpangan
dari tujuan diskusi dengan pembicaraan yang tidak relevan.
d. Membiarkan siswa yang enggan
berpartisipasi.
e. Tidak memperjelas atau mendukung pendapat
siswa.
f. Gagal mengakhiri diskusi secara
efektif.
7. Keterampilan Mengelola Kelas
Pengelolaan kelas adalah
keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal
dengan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar-mengajar.
Dengan kata lain, kegiatan-kegiatan untuk menciptakan dan mempertahankan
kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar-mengajar. Yang termasuk ke
dalam hal ini misalnya penghentian tingkah laku siswa yang menyelewengkan
perhatian kelas, pemberian ganjaran bagi ketepatan waktu penyelesaian tugas
oleh siswa, atau penetapan norma kelompok yang produktif.
Adapun komponen dari keterampilan mengelola kelas yaitu:
1. Keterampilan yang berhubungan
dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat
preventif)
Keterampilan ini berkaitan dengan kemampuan guru dalam
mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran serta kegiatan-kegiatan yang
berhubungan dengan hal-hal tersebut yang meliputi keterampilan sebagai berikut:
A. Menunjukkan sikap tanggap
Ketanggapan
diarahkan agar kehadiran guru dalam kelas betul-betul dirasakan oleh siswa.
Kesan ketanggapan dapat ditunjukkan dengan cara sebagai berikut.
I.
Memberikan
komentar baik terhadap materi pelajaran yang akan dipelajari maupun terhadap
perilaku siswa. Komentar yang bersifat positif dan bisa menggugah perhatian siswa
sangat diperlukan untuk membangun suasana yang optimal.
II.
Menjaga
kontak mata, artinya setiap saat guru perlu memperhatikan siswa melalui
pandangan secara terus-menerus.melalui pandangan itulah siswa akan merasa
diperhatikan.
III.
Gerak
mendekat, artinya guru perlu memberi perhatian khusus baik kepada individu
maupun kepada kelompok. Gerak mendekat akan memberi kesan adanya perhatian guru
terhadap aktivitas siwa, sehingga aj\akan membangun suasana akrab dan
bersahabat antara guru dan siswa. Di samping itu, gerak mendeka juga bisa
dilakukan untuk mengembalikan kondisi belajar siswa, misalnya gerak mendekat
pada siswa yang berperilaku menganggu.
B. Memusatkan perhatian
Pemusatan
perhatian dapat dilakukan dengan:
I.
Memberikan
ilustrasi-ilustrasi secara visual, misalnya dengan mengalihkan pandangan dari
satu kegiatan ke kegiatan lain tanpa memutuskan kontak pandang baik terhadap
kelompok maupun terhadap individu siswa.
II.
Memberikan
komentar secara verbal melalui kalimat-kalimat yang segar tanpa keluar dari
konteks materi pelajaran yang sedang dibahas.
C. Memberikan peunjuk dan tujuan yang
jelas
Siswa
akan belajar dengan perhatian penuh manakalamamahami tujuan yang harus dicapai
serta mengerti apa yang harus dilakukan. Sering terjadi kurangnya konsentrasi
disebabkan ketidakpahaman terhadap arah dan sasaran yang akan dicapai.
D. Memberi teguran dan penguatan
Teguran
diperlukan sebagai upaya memodifikasi tingkah laku. Teguran verbal yang efektif
adalah yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
I.
Tegas
dan jelas tertuju kepada siswa yang mengganggu serta kepada tingkah lakunya
yang menyimpang.
II.
Menghindari
peringatan yang kasar dan menyakitkan atau yang mengandung penghinaan.
III.
Menghindari
ejekan, lebih-lebih yang berkepanjangan.
Dalam memberi penguatan, guru dapat
menggunakan dua cara berikut.
I.
Guru
dapat memberikan penguatan kepada siswa yang mengganggu, yaitu dengan jalan
“menangkap” siswa tersebut ketika ia sedang melakukan tingkah laku yang tidak
wajar, kemudian menegurnya.
II.
Guru
dapat memberikan penguatan kepada siswa yang bertingkah laku wajar dengan
demikian menjadi contoh atau teladan tentang tingkah laku positif bagi siswa
yang suka mengganggu.
2. Keterampilan yang berhubungan dengan
pengembalian kondisi belajar yang optimal
Keterampilan ini berkaitan dengan respons guru terhadap
gangguan siswa yang berkelanjutan dengan maksud agar guru dapat mengadakan
tindakan remedial untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal. Apabila
terdapat siswa yang menimbulkan gangguan yang berulang-ulang walaupun guru
telah menggunakan tingkah laku dan respons yang sesuai, guru dapat meminta
bantuan kepada kepala sekolah, konselor sekolah, atau orang tua siswa.
Pada tingkat tertentu guru dapat menggunakan seperangkat
strategi untuk tindakan perbaikan terhadap tingkah laku siswa yang terus
menerus menimbulkan gangguan dan yang tidak mau terlibat dalam tugas di kelas.
Strategi tersebut adalah:
1) Modifikasi tingkah laku. Guru
hendaknya menganalisis tingkah laku siswa yang mengalami masalah atau kesulitan
dan berusaha memodifikasi tingkah laku tersebut dengan mengaplikasikan
pemberian penguatan secara sistematis.
2) Guru dapat menggunakan pendekatan
pemecahan masalah kelompok dengan cara:
a. Memperlancar tugas-tugas untuk
mengusahakan terjadinya kerja sama yang baik dalam pelaksanaan tugas.
b. Memelihara kegiatan-kegiatan
kelompok, memelihara dan memulihkan semangat siswa dan menangani konflik yang
timbul.
c. Menemukan dan memecahkan tingkah
laku yang menimbulkan masalah. Guru dapat menggunakan seperangkat cara untuk
mengendalikan tingkah lku keliru yang muncul, dan ia mengetahui sebab-sebab
dasar yang mengakibatkan ketidakpatutan tingkah laku tersebut serta berusaha
untuk menemukan pemecahannya.
Dalam usaha mengelola kelas secara
efektif ada sejumlah kekeliruan yang harus dihindari oleh, yaitu sebagai
berikut:
a. Campur tangan yang berlebihan
(teachers instruction)
Apabila
guru menyela kegiatan yang sedang asyik berlaangsung dengan komentar ,
pertanyaan, atau petunjuk yang mendadak, kegiatan itu akan terganggu atau terputus.
Hal ini akan memberi kesan kepada siswa bahwa guru tidak memperhatikan
keterlibatan dan kebutuhan anak. Ia hanya ingin memuaskan kehendak sendiri.
b. Kelenyapan (fade away)
Hal
ini terjadi jika guru gagal secara tepat melengkapi suatu instruksi,
penjelasan, petunjuk, atau komentar, dan kemudian menghentikan penjelasan atau
sajian tanpa alas an yang jelas. Juga dapat terjadi dalam bentuk waktu diam
yang terlalu lama, kehilangan akal, atau melupakan langkah-langkah dalam
pelajaran. Akibatnya ialah membiarkan pikiran siswa mengawang-awang, melantur,
dan mengganggu keefektifan serta kelancaran pelajaran.
c. Ketidaktepatan memulai dan
mengakhiri kegiatan (stops and starts)
Hal
ini dapat terjadi bila guru memulai suatu aktivitas tanpa mengakhiri aktivitas
sebelumnya, menghentikan kegiatan pertama, memulai yang kedua, kemudian kembali
kepada kegiatan yang pertama lagi. Dengan demikian guru tidak dapat
mengendalikan situasi kelas dan akhirnya mengganggu kelancaran kegiatan siswa.
d. Penyimpangan (digression)
Akibat
guru terlalu asyik dalam suatu kegiatan atau bahan tertentu memungkinkan ia
dapat menyimpang. Penyimpangan tersebut dapat mengganggu kelancaran kegiatan
belajar siswa.
e. Bertele-tele (overdwelling)
Kesalahan
ini terjadi bila pebicaraan guru bersifat mengulang hal-hal tertentu,
memperpanjang keterangan atau penjelasan, mengubah teguran yang sederhana
menjadi ocehan atau kupasan yang panjang.
8. Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil
dan Perseorangan
Secara fisik bentuk pengajaran ini
ialah bila jumlah siswa yang dihadapi oleh guru terbatas, yakni berkisar antara
3 – 8 orang untuk kelompok kecil dan seorang guru unuk perseorangan. Guru
menghadapi banyak siswa yang terdiri dari beberapa kelompok yang dapat bertatap
muka, baik secara perseorangan maupun secara berkelompok.
Peran guru dalam pengajaran ini
adalah sebagai:
1. Organisator kegiatan
belajar mengajar
2. Sumber informasi
(nara sumber) bagi siswa
3. Motivator bagi siswa untuk
belajar
4. Penyedia materi dan
kesempatan belajar (fasilitator) bagi siswa
5. Pembimbing kegiatan belajar
siswa (konselor)
6. Peserta kegiatan belajar
Pengajaran
kelompok kecil dan perseorangan memungkinkan guru memberikan perhatian terhadap
setiap siswa serta terjadinya hubungan yang lebih akrab antara guru dan siswa
maupun antara siswa dengan siswa. Pengajaran ini memungkinkan siswa belajar
lebih aktif, memberikan rasa tanggung jawab yang lebih besar, serta dapat memenuhi
kebutuhan siswa secara optimal.
Kombinasi
pengajaran klasikal, kelompok kecil, dan perseorangan memberikan peluang yang
besar bagi tercapainya tujuan pengajaran. Dengan demikian, penguasaan
keterampilan mengajar kelompok kecil dan perseorangan merupakan satu kebutuhan
yang esensial bagi setiap calon guru dan guru profesional. Hal-hal yang perlu
diperhatikan:
1. Bagi guru yang sudah terbiasa dengan
pengajaran klasikal, sebaiknya dimulai dengan pengajaran kelompok, kemudian
secara bertahap mengarah kepada pengajaran perseorangan. Sedangkan bagi calon
guru sebaiknya dimulai dengan pengajaran perseorangan, kemudian secara bertahap
pengajaran kelompok kecil.
2. Tidak semua topik atau pokok bahasan
dapat dipelajari secara efektif dalam kelompok kecil maupun perseorangan.
Hal-hal yang bersifat umum seperti pengarahan informasi umum sebaiknya
diberikan dalam bentuk kelas besar.
3. Dalam pengajaran kelompok kecil,
langkah pertama adalah mengorganisasi siswa, sumber, materi, ruangan, serta
waktu yang diperlukan, dan diakhiri dengan kegiatan kulminasi yang dapat berupa
rangkuman, pemantapan atau laporan.
4. Dalam pengajaran perseorangan guru
harus mengenal siswa secara pribadi sehingga kondisi belajar dapat diatur.
5. Kegiatan dalam pengajaran perorangan
dapat dilakukan melalui paket belajar atau bahan yang telah disiapkan oleh
guru.
Komponen-komponen
keterampilan antara lain:
1. Keterampilan mengadakan pendekatan
secara pribadi
Salah satu prinsip pengajaran kelompok kecil dan
perseorangan adalah terjadinya hubungan yang akrab dan sehat antara guru dengan
siswa dan siswa dengan siswa. Hal ini dapat terwujud bila guru memiliki
keterampilan berkomunikasi secara pribadi yang dapat diciptakan antara lain
dengan:
a. Menunjukkan kehangatan dan kepekaan
terhadap kebutuhan siswa baik dalam kelompok kecil maupun perseorangan.
b. Mendengarkan secara simpatik ide-ide
yang dikemukakan oleh siswa.
c. Memberikan respon positif terhadap
buah pikiran siswa.
d. Membangun hubungan saling
mempercayai.
e. Menunjukkan kesiapan untuk membantu
siswa.
f. Menerima perasaan siswa dengan penuh
pengertian dan terbuka.
g. Berusaha mengendalikan situasi
hingga siswa merasa aman, penuh pemahaman, dan dapat memecahkan masalah yang
dihadapinya.
2. Keterampilan mengorganisasi
Selama kegiatan kelompok kecil atau perseorangan
berlangsung, guru berperan sebagai organisator yang mengatur dan memonitor
kegiatan dari awal sampai akhir. Dalam hal ini guru memerlukan keterampilan
sebagai berikut:
a. Memberikan orientasi umum tentang
tujuan dan tugas yang akan dilakukan.
b. Menvariasikan kegiatan yang mencakup
penyediaan ruangan, peralatan, dan cara melaksanakannya.
c. Membentuk kelompok yang tepat.
d. Mengoordinasikan kegiatan.
e. Membagi perhatian kepada
berbagai tugas dan kebutuhan siswa.
f. Mengakhiri kegiatan dengan laporan
hasil yang dicapai oleh siswa.
3. Keterampilan membimbing dan
memudahkan belajar
Keterampilan ini memungkinkan guru membantu siswa untuk maju
tanpa mengalami frustasi. Hal ini dapat dicapai bila guru memiliki keterampilan
berikut.
a. Memberikan penguatan yang merupakan
dorongan yang penting bagi siswa untuk maju.
b. Mengembangkan supervisi proses awal,
yakni sikap tanggap guru terhadap siswa baik individu maupun kelompok yang
memungkinkan guru mengetahui apakah segala sesuatu berjalan lancar sesuai
dengan yang dihadapkan.
c. Mengadakan supervisi proses lanjut
yang memusatkan perhatian pada penekanan dan pemberian bantuan ketika kegiatan
berlangsung.
d. Mengadakan supervisi pemanduan yang
memusatkan perhatian pada penilaian pencapai tujuan dari berbagai kegiatan yang
dilakukan dalam rangka menyiapkan rangkuman dan pemantapan sehingga siswa
saling belajar dan memperoleh wawasan yang menyeluruh. Ini dilakukan dengan
mendatangi kelompok, menilai kemajuannya, dan menyiapkan mereka untukmengikuti
kegiatan akhir cara yang efektif. Untuk maksud ini ialah mengingatkan siswa akan
waktu yang masih tersisa untuk menyelesaikan tugas.
4. Keterampilan merencanakan dan
melaksnakan kegiatan belajar-mengajar
Keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar
mengajar mencakup:
a. Membantu siswa menetapkan tujuan
pelajaran dan menstimulasi siswa untuk mencapai tujuan tersebut.
b. Merencanakan kegiatan belajar
bersama siswa yang mencakup kriteria keberhasilan, langkah-langkah kerja,
waktu, serta kondisi belajar.
c. Bertindak atau berperan sebagai
penasihat bagi siswa bila diperlukan.
d. Membantu siswa menilai pencapaian
dan kemajuannya sendiri. Ini berarti memberi kesempatan kepada siswa untuk
memperbaiki dirinya sendiri yang merupakan kerja sama guru dengan siswa dalam
situasi pendidikan yang manusiawi.
e. Untuk keempat keterampilan tersebut
di atas ternyata ada keterampilan dasar yang sebelumnya harus dikuasai guru,
yaitu keterampilan bertanya, memberi penguatan, mengadakan variasi, dan
menjelaskan. Dengan demikian, keterampilan mengajar serta membimbing kelompok
kecil dan perseorangan merupakan keterampilan yang kompleks.