Kamis, 23 Oktober 2014

KEMAMPUAN DASAR DAN KARAKTERISTIK SENI ANAK SD

BAB I PENDAHULUAN 
1.1 Latar Belakang
Seni mulai dikembangkan daam dunia pendidikan sejak tahun 1976. Kehadiran seni dalam dunia pendidikan ditunjukkan dalam suatu mata pelajaran seni yang masuk ke dalam kurikulum. Seni yang tertuang dalam mata pelajaran berupa pendidikan seni rupa, pendidikan seni tari, pendidikan seni musik dan lain sebagainya. Dalam dunia pendidikan secara tidak langsung sebenarnya telah menerapkan dan menanamkan adanya pendidikan seni sebagai salah satu strategi dalam proses pembelajaran, baik sejak TK sampai dengan SMA.
Pendidikan seni memiliki kedudukan yang setara dengan mata pelajaran lain dalam lingkup program pendidikan. Namun dalam pendidikan seni penekanannya dimaksudkan untuk membantu pertumbuhan fisik dan mental peserta didik. Sehubungan dengan adanya perbedaan sifat dan karakteristik peserta didik yang satu dengan yang lain, maka pendidikan seni pun perlu memperhatikan hal tersebut. Hal ini berkaitan dengan tujuan pendidikan seni yang tidak ditujukan untuk melatih keterampilan peserta didik agar pandai dalam berkarya seni, melainkan lebih ditekankan sebagai sarana atau alat pendidikan.Dalam membelajarkan seni kepada anak Sekolah Dasar setidaknya guru harus mengetahui pemahaman kemampuan dasar dan karakteristik seni pada anak Sekolah Dasar. Hal ini dikarenakan kemampuan peserta didik tiap jenjang umurnya selalu berbeda begitu pula karakteristik seni yang dimilikinya. Oleh karena itu, makalah ini akan membahas kemampuan dasar seni anak SD yang meliputi kemampuan intelektual, kondisi emosional, kondisi sosial, kodisi perseptual, karateristik fisik anak, dan karakteristik anak serta karakteristik seni anak SD yang meliputi karakteristik suara, karakteristik musik, karakteristik gerak, karakteristik seni rupa, dan periodisasi seni rupa anak.1.2 Rumusan MasalahDari latar belakang diatas dapat diperoleh rumusan masalah sebagai berikut.1.      Apa saja kemampuan dasar seni yang dimiliki anak SD?
2.      Apa saja karakteristik seni yang dimiliki anak SD?
1.3 TujuanDari rumusan masalah diatas dapat diperoleh tujuan sebagai berikut.1.      Mahasiswa dapat memahami kemampuan dasar seni yang dimiliki anak SD.
2.      Mahasiswa dapat memahami karakteristik seni yang dimiliki anak SD.
 BAB IIPEMBAHASAN 2.1 Kemampuan Dasar Seni Anak SDPerkembangan manusia dapat dibedakan menjadi 4 kategori, yaitu :
  1. Perkembangan kognitif, berhubung dengan perubahan – perubahan yang terjadi pada cara – cara berfikir seseorang.
  1. Perkembangan personal, marupakan perubahan – perubahan yang terjadi yang berkaitan dengan kepribadian.
  1. Perkembangan sosial, berhubungan dengan perubahan – perubahan yang terjadi pada diri seseorang, antara individu yang satu dengan lainnya.
  1. Perkembangan fisik, perubahan – perubahan yang terjadi pada tubuh manusia.
Perkembangan yang terjadi pada individu disebabkan oleh dua fakrot, yaitu : Faktor pertumbuhan dan kematangan, perubahan – perubahan yang terjadi pada individu secara alamiah dan spontan.
  1. Faktor belajar, perubahan – perubahan yang terjadi dari interaksi individu dengan lingkungan sekitarnya.
  1. Anak Sekolah Dasar mempunyai karakteristik yang khas dalam hal fisik maupun psikologis, khususnya dalam tingkat intelektual, emosional, sosial, estetik, kreativitas dan daya perseptual serta pertumbuhan fisiknya.
2.1.1 Kemampuan Intelektual AnakMenurut peaget (woolfolk and Nicolich, 1984:51) ada empat faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia, yaitu :1.      Kematangan, merupakan faktor paling dasar dalam perkembangan berfikir manusia.
2.      Aktivitas, aktivitas berfikir seperti observasi, oksplorasi, evalusi dan problem solving merupakan aktivitas berfikir yang turut andil dalam membangun kemampuan berfikir anak.
3.      Transmisi sosial, pengalaman belajar dari orang lain.
4.      Equilibration, faktor keseimbangan yang selalu diupayakan dalam berfikir
2.1.2 Kondisi Emosional Anak Emosi berbeda dengan perasaan (feeling) yang bersifat tenang dan tertutup. Emosi menggambarkan suasana batin yang lebih dinamis, bergejolak dan terbuka. Emosi sebagai aspek psikologis  mempunyai ciri-ciri yang khas, yaitu :
  1. Lebih bersifat subyektif dibandingkan dengan peristiwa psikologis lainnya.
  1. Bersifat flukuatif. Emosi seseorang bisa berubah-ubah tergantung dari situasi dan kondisi.
  1. Banyak bersangkut paut dengan peristiwa panca indra.
Berdasarkan penyebab kemunculannya, emosi dikelompokkan menjadi dua macam yaitu :
  1. Emosi sensoris, emosi yang ditimbulkan oleh rangsangan dari luar tubuh.
  1. Emosi psikis, emosi yang kemunculannya mempunyai alasan-alasan kejiwaan, perasaan intelektual,  perasaan sosial., perasaan estesis, dan perasaan spiritual.
2.1.3 Kondisi Sosial AnakPada masa Sekolah Dasar, anak erangsur-angsur  mulai menyadari  bahwa mereka merupakan bagian yang tak terpisahkan dari lingkungannya. Mereka mulai menaruh perhatian pada orang lain disekitarnya. Mereka mulai mencari teman akrab dan sudah mampu bekerja sama dengan mereka, mengikuti aturan – aturan kelompok. Dalam hal ini guru bisa memberikan pembelajaran secara berkelompok agar anak didiknya dapat bersosialisasi dengan baik.2.1.4 Kondisi Perseptual AnakPerseptual mengandung pengertian  kombinasi antara kognitif dan efektif. Secara intelektual, pada masa Sekolah Dasar anak sudah mampu mencerna informasi yang berasal dari luar dirinya apabilah dihubungkan dengan hal-hal yang sudah  diketahuinya.2.1.5 Karakteristik Fisik AnakMasa Sekolah Dasar adalah masa dimana anak berada dalam proses pertumbuhan fisik yang sangat pesat. Pada masa ini anak menyukai kegiatan yang bersifat fisik.Kegiatan – kegiatan  fisik ini dapat diarahkan pada permainan – permainan kelompok yang dampaknya sangat baik bagi perkembangan sosial mereka.2.1.6 Karakteristik Estetik AnakPerasaan estetik merupakan suatu hal yang sifatnya alamiah yang dibawa anak sejak lahir, ini berarti secara alamiah sesungguhnya seseorang itu sudah mampu menangkap, mengalami atau merasakan keindahan yang ada disekitarnya.2.1.7 Kondisi Kreatif AnakBakat kreatifitas anak sudah dibawa anak sejak dari lahir. Jika anak dapat difasilitasi dengan beragam teknologi pada zaman sekarang ono karena bakat setiap anak berbeda – beda.   2.2 Karakteristik Seni Anak SDKarya seni merupakan produk budaya manusia dari semua lapisan sosial, kelompok etnis, kurun waktu, jenis kelamin dan usia. Hasil karya seni sesungguhnya dapat dipengaruhi dan bahkan dapat ditentukan oleh pelaku seni itu sendiri. Aspek-aspek yang mempengaruhi itu adalah latar belakang, perkembangan fisik dan mental, kebutuhan dan kesenangan dan lingkungannya.2.2.1 Karakteristik Suara Anak Usia SDMedia musik yang paling dekat dengan kita adalah suara dan tubuh kita, bernyanyi dan bertepuk tangan itulah yang dimaksudkan. Suara yang dihasilkan manusia memiliki suara yang berbeda-beda sesuai dengan alat produksinya. Salah satu unsur yang membedakannya adalah ukuran alat produksi suara, sehingga bisa dikelompokkan maka ada karakteristik suara manusia yang dibedakan dari usia.Menurut Andersen karakteristik suara anak dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok, berdasarkan karakteristik dan kemammpuannya:a.       Usia 4 – 5 tahun suaranya tersengar tipis, kecil dan ringanb.      Usia 6 – 7 tahun pada umumnya memiliki suara yang tinggi dan ringan, namun ada juga  yang bersuara rendahc.       Usia 8 – 9 tahun pada umumnya anak mulai dapat bernyanyi dengan nada yang tepatd.      Usia 10 -12 tahun pada umumnya belum mengalami perubahan suara , suara mereka masih terdengar jernih dan ringan2.2.2 Karakteristik Musik AnakMusik anak harus sesuai dengan perkembangan fisik yang mampu menjadikan dirinya sebagai media pengungkapan perasaan, pikiran, isi hati anak. Karakter musik anak biasanya dapat ditemukan tidak hanya pada semua aspek musik tetapi juga seperti; aspek bunyi, nada, ritme, tempo dan dinamik serta ekspresi dan bentuk musik. Selain itu biasanya musik anak mampu memberikan kesempatan bagi perkembangan kreativitas berfikir dan seni (rasa keindahan) anak serta dunia anak. Berikut ini merupakan karakteristik yang muncul dalam musik anak, yaitu.1.      Musik sesuai dengan minat dan menyatukan dengan kehidupan anak sehari-hari.2.      Ritme musik dan pola melodinya pendek sehingga mudah diingat3.      Nyanyian atau lagu tersebut juga harus mengandung unsur musik lainnya.4.      Melalui musik anak diberi kesempatan pula untuk bergerak melalui musik. 2.2.3 Karakteristik Gerak AnakPada usia ini perkembangan visiomotoriknya yakni koordinasi antara mata dan angan telah berkembang dengan baik. Karakteristik gerak fisik anak usia sekolah dasar dapat dikatakan bersifat sederhana, gerakannya biasanya bermakna dan bertema dimana tiap gerakan mengandung arti atau tema tertentu. Anak juga mampu menirukan gerak binatang melalui pengamatannya.2.2.4 Karakteristik Seni Rupa AnakAda 4 aspek yang dapat digunakan untuk mengamati karya seni rupa anak, yakni: 1) dari aspek tipologi seni rupa anak, 2) dari aspek karakteristik seni, 3) dari aspek periodisasi sei rupa anak, dan 4) dari aspek relevansi karakteristik seni rupa anak.Tipe tipologi seni rupa anak terdiri atas tiga tipe. Yaitu, tipe visual (non haptik), tipe haptik dan tipe willing type. Pada tipe visual, kemampuan daya tangkap indrawi sangat menonjol sehingga anak mampu merekam objek aslinya termasuk proporsi, perspektif, perbandingan serta detailnya. Tipe visual (non haptic) mendapat pengaruh dari intellectual motivation. Oleh karena itu, figur-figur dan bahkan alur ceritanya tampak jelas. Pada tipe ini pikiran anak dapat dibaca dalam gambar karena bentuknya yang mudah dikenali maksudnya.Haptic adalah jenis karya gambar anak yang lebih cenderung mengungkapkan rasa dari pada fikiran. Sehingga model/ bentuk/ tampilannya kelihatannya ekspresif dan menghasilkan bentuk-bentuk perasaan Pada tipe haptik, pengungkapan suasana hati atau emosi sangat menonjol ketika mereka menuangkan objek kedalam karya seni rupanya.Willing type merujuk pada makna tipe seseorang yang mengharapkan akan sesuatu. Tipe harapan (willing type) dalam gambar anak ditunjukkan oleh tema yang diangkat dalam materi pokok gambar berupa ungkapan harapan, cita-cita, kejadian masa yang akan datang, dan lain sebagainya.2.5 Periodisasi Seni Rupa AnakA.    Masa Coreng Moreng : Usia 1-4 tahun
Pada masa coreng moreng dibedakan atas dua tipe. yaitu tipe  judul gambar masih berubah-ubah dan mengindentifikasi objek dengan judul yang tepat1)      Judul gambar masih berubah-ubah (perkembangan garis)
Pada masa perkembangan seni rupa ini  sekitar usia 1 sampai dengan 2 tahun. Anak masih melatih diri mengkoordinasikan bentuk garis yang sempurna maupun yang kurang tepat. Usia perkembangan garis ini seiring tanggapan terhadap lingkungan sekitarnya, seperti melihat objek masih berbentuk bulatan dan garis miring. Taraf pandang anak masih berbentuk global. Jika anak sudah bisa memberi judul pada gambar atau lukisannya, maka judul tersebut masih berubah-ubah. Pada suatu ketika, anak memberi judul : “Kucing sedang makan,” selang sejam berikutnya, gambar tersebut berubah judul menjadi; “Ayahku sedang memberi makan ayam jantang dikandang.”       Situasi ini menggambarkan penalaran anak belum stabil, bahkan dapat diduga bahwa pikiran anak masih menyatu dengan perasaan anak, apa yang dipikirkan sama dengan apa yang dirasakan. Jadi, anak menggambar apa yang dia ketahui dan diinginkan bukan apa yang diketahui dan diinginkan bukan apa yang dia lihat dalam kondisi sesungguhnya. 2)      Mulai mengidentifikasi Objek dengan Judul yang Mantap
Anak mulai menyadari gambarnya sudah dapat dibaca orang lain dan telah mampu meliht objek secara detail, maka gambarpun mulai berubah. Bulatan-bulatan semula susunannya tidak berbentuk figur manusia kini mulai berubah menjadi bulatan yang bersinar, dilambangkan dengan bulatan matahari. Bentuk ini dipengaruhi oleh tingkat penalaran anak bahwa matahari bersinar terang, maka bulatan bersinarpun diandaikan, seperti waja yang ceria. Tanda keceriaan disimbolkan dengan mata, hidung dan senyum yang lebar. Begitu pula dengan tanda kesedihan disimbolkan dengan mata yang menangis dan bibir yang cemberut.Perkembangan yang dirasakan cepat adalah pengubahan matahari yang yang telah mempunyai atribut tersebut menjadi figur manusia. Manusia yang hanya mempunyai susunan anggota tubuh kepala-kaki. Tangan masih menyatu dengan kepala dan manusia tidak berbadan. Bagi anak yang masih menyatukan pikiran dan perasaannya, gambar manusia kepala sampai kaki belum tampak. Anak masih suka mengekspresikan ide dan gagasan secara spotan, namun anak sudah memberi judul dengan tetap dan mantap.B.     Masa Prabagan (Preschematic) : Usia 4-7 tahun
Pada masa prabagan ini anak sudah mulai mengenal dirinya, baik jenis kelamin maupun eksistensi dirinya dalam hubungan keluarga maupun masyarakat sosialnya. Beberapa anak mulai memanjakan dirinya karena merasa penting dan diperhatikan orang lain. Ketika pemahaman dirinya sangat tinggi, sering sifat ego menjadi berlebihan. Anak merasakan menjadi raja dalam keluarga karena beberapa keterampilan telah mereka kuasai, seperti menyanyi, hafal menghitung angka 1 sampai dengan 100 atau suka menirukan perilaku orang dewasa. Perkembangan dalam gambar anak pun mulai meningkat dari figur manusia kepala – kaki menjadi manusia – tulang, atau manusia – batang. Dikatakan sebagai manusia tulang karena gambar tubuh manusia berupa tulang-tulang yang tersusun.  Lukisan anak perempuan             Lukisan anak laki-lakiDalam hal warna, periode prabagan belum banyak memberikan arti yang sangat kuat. Warna yang dipilih kadang kala tidak relevan dengan gambarnya. Namun, beberapa anak wanita suda mmberikan arti warna dengan menyesuaikan bentuk objek, sedangkan anak laki-laki cenderung menguat pada bentuk gambarnya. C.    Masa Bagan (schematic) : Usia 7-9 tahun Pada masa ini, anak sudah mampu membedakan dengan jelas jenis kelamin dalam gambarnya. Namun, belum menunjukkan konsep yang matang tentang judul terhadap bentuk gambar






D.      Masa Realism Awal (dawning realism) : Usia 9-11 Tahun
Perkembangan mental anak pada periode ini adalah kemampuan pengindraan, bentuk yang detail mampu diungkapkan terutama hal-hal yang berada di lingkungan sekitar. pemahaman tentang postur tubuh manusia telah dipahami secara nyata, namun hambatan dalam  menggambar adalah mengkoordinasikan tekanan-tekanan objek. Dalam tahap perkembangan ini anak wanita sesuai dengan sifat alaminya, perkembangan pengamatan terhadap objek sebenarnya sudah mampu secara detail. Begitu juga dengan anak laki-laki, visualisasi bentuk sangat kuat terutama pada objek yang bergerak.
Pada umumnya, anak pada periode ini  cenderung menggambar cerita secara lengkap. Anak juga sudah mampu mengungkapkan perspektif, namun belum sempurna. Hal ini disebabkan masa egois masih kuat sehingga komposisi gambar berupa juxta dan rabantment.
E.  Masa Realisme Semu (pseudo realism) : Usia 11-14 tahun
Seiring dengan perkembangan biologi, anak usia 11-15 tahun sudah bisa membedakan dengan jelas kedudukan dirinya dan fungsi masing-masing organ tubuh.
Gambar anak usia ini sudah detail, namun mengalami kesulitan mengungkapkan bentuk-bentuk visual. Pikiran anak telah detail, rasional, dan realistis. Bagi anak pada masa ini sudah menyadari akan makna keindahan dan estetika berani mempertahankan gambarnya.








BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
            Pemahaman yang baik terhadap aspek-aspek perkembangan anak akan menunjang keberhasilan guru dalam proses pembelajaran. Aspek-aspek perkembangan yang perlu diperhatikan oleh guru tersebut meliputi: perkembangan intelektual, emosional, personal dan sosial, perseptual, fisik estetik, dan kreativitas. Secara intelektual, menurut Piaget anak Sekolah Dasar memasuki masa Operasi Konkert yang mana anak sudah mampu berfikir logis dan sistematis yang mampu memecahkan masalah-maslah yang bersifat konkert. Kondisi emosional anak Sekolah Dasar itu sangat labil, mudah berubah, cepat datangnya perubahan dan cepat pula normal kembali. Kondisi sosialnya sudah berangsur-angsur keluar dari lingkungan keluarganya dan mulai mencari teman akrab,  menaruh perhatian pada orang lain, dan mencari teman untuk bermain dan bekerja sama. Anak SD mempunyai karaketristik ingin tahu segala hal. Masa SD adalah masa pendidikan jasmani dan panca indera dan secara alamiah anak sudah membawa kemampuan menangkap getar keindahan alam dan karya seni. Kemampuan tesebut seyogyanya difasilitasi untuk berkemban baik secara ekspresif maupun apresiatif.  Ekspresi dan aktualisasi diri merupakan salah satu kebutuhan psikologis yang penting bagi anak SD.
Sesuai dengan perkembangan  usia anak yang meliputi fisik dan nonfisik, maka terpaut pula perkembangan anak dala berkarya seni. Karya seni anak memiliki karakteristiknya kondisi yang berbeda jauh dengan karya seni orang dewasa. Pada bidang  seni musik pada umumnya menonjol pada suara yang mereka miliki. Kemampuan mereka dibagi dalam kelompok-kelompok usia sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan fisik dan nonfisik mereka. Begitu pula musik yang dinyanyikan atau dimainkannya. Pada seni tari, terjadi hal sama kemampuan fisik yang terus berkembang telah menjadikan pedoman bagi guru untuk memilih materi dan metode pembelajarannya. Sementara pada bidang seni rupa, juga perkembangan ditelektual, emosi, sosial, dan juga fisik anak.
            Kemampuan dasar dan karakteristik seni anak SD perlu diperhatikan guru agar dapat dihasilkan pembelajaran seni yang bermakna.
3.2 Saran
Dengan adanya makalah ini dapat mempermudah mahasiswa dalam membelajarkan seni di SD melihat dari kemampuan dasar serta karakteristik seni anak SD, sehingga dalam melakukan pembelajaran guru dapat menimbang materi yang cocok untuk anak SD dan sejauh mana pengembagan kreativitas seni anak SD.

Anonymous. 2012. Modul Kemampuan Dasar dan Karakteristik Seni SD. Online: http://hencozs.blogspot.com/2013/06/modul-kemampuan-dasar-dan-karakteristik.html
Anonymous. 2012. Kemampuan Dasar dan Karakteristik Seni. Online: http://myschoolsmkn3tpi.blogspot.com/2011/11/kemampuan-dasar-dan-karakteristik-seni.html
Pamadhi, Hadjar dkk. 2010. Pendidikan Seni di SD. Jakarta: Universitas Terbuka
  DAFTAR PUSTAKA

Minggu, 31 Agustus 2014

keterampilan dasar mengajar

Keterampilan Dasar Mengajar
Keterampilan dasar mengajar (teaching skill) adalah kemampuan atau keterampilan yang keterampilan yang bersifat khusus yang harus dimiliki oleh guru, dosen,instruktur, atau widyaiswara agar dapat melaksanakan tugas mengajar secara efektif, efisien dan profesional (As. Glicman, 1991). Dengan demikian keterampilan dasar mengajar berkenaan dengan beberapa kemampuan atau keterampilan yang bersifat mendasar dan melekat harus dimiliki dan diaktualisasikan oleh setiap guru, dosen, instruktur, atau widyaiswara dalam melaksanakan tugas mengajarnya.
8 Keterampilan Dasar Mengajar:
1.      Keterampilan Dasar Bertanya
Keterampilan bertanya, bagi seorang guru merupakan keterampilan yang sangat penting. Sebab melalui keterampilan ini guru dapat menciptakan suasana pembelajaran lebih bermakna. Para ahli percaya pertanyaan yang baik memiliki dampak positif terhadap siswa, di antaranya:
1)      Bisa meningkatkan partisipasi siswa secara penuh dalam proses pembelajaran.
2)      Dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa, sebab berpikir itu sendiri pada hakikatnya bertanya.
3)      Dapat membangkitkan rasa ingin tahu siswa serta menuntun siswa untuk menentukan jawaban.
4)      Memusatkan siswa pada masalah yang sedang dibahas.
Pertanyaan menurut Taksonomi Bloom:
1)      pertanyaan pengetahuan atau ingatan dengan menggunakan kata-kata apa, di mana, kapan, siapa, dan sebutkan.
2)      Pertanyaan pemahaman yaitu pertanyaan yang menghendaki jawaban yang bersifat pemahamn dengan kata-kata sendiri.
3)      Pertanyaan penerapan yaitu pertanyaan yang menghendaki jawaban untuk menerapkan pengetahuan atau informasi yang diterimanya.
4)      Pertanyaan sintesis yaitu pertanyaan yang menghendaki jawaban yang benar, tidak tunggal, tetapi lebih dari satu dan menuntut murid untuk membuat ramalan (prediksi), memecahkan masalah, mencari solusi.
5)      Pertanyaan evaluasi yaitu pertanyaan yang menghendaki jawaban dengan cara memberikan penilaian atau pendapatnya terhadap suatu isu yang ditampilkan.

2.      Keterampilan Dasar Memberikan Penguatan
Keterampilan dasar penguatan adalah segala bentuk respons yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik bagi siswa atas perbuatan atau responsnya yang diberikan sebagai suatu dorongan atau koreksi. Dengan demikian, fungsi keterampilan penguatan adalah untuk memberikan ganjaran kepada siswa sehingga siswa akan berbesar hati dan meningkatkan partisipasinya dalam setiap proses pembelajaran.
Ada dua jenis penguatan yang biasa diberikan oleh guru, yaitu penguatan verbal dan nonverbal.
1)      Penguatan Verbal
Penguatan verbal adalah penguatan yang diungkapkan dengan kata-kata, baik kata-kata pujian atau penghargaan atau kata-kata koreksi. Misalnya, ketika diajukan sebuah pertanyaan kemudian siswa menjawab dengan tepat , maka guru memuji siswa dengan mengatakan : “Bagus!”, “Tepat sekali”, dan lain sebagainya.
2)      Penguatan Nonverbal
Penguatan nonverbal adalah penguatan yang diungkapkan melalui bahasa isyarat. Misalnya melalui anggukan kepala tanda setuju, gelengan kepala tanda tidak setuju, mengernyitkan dahi, mengangkat pundak, dan lain sebagainya. Selain itu, penguatan nonverbal juga dapat dilakukan dengan memberikan tanda-tanda tertentu, misalnya penguatan dengan melakukan sentuhan (contact) dengan berjabat tangan atau menepuk-nepuk pundak siswa setelah siswa memberikan respon yang bagus.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memberikan penguatan agar penguatan itu dapat meningkatkan motivasi pembelajaran.
A.    Kehangatan dan Keantusiasan
Sikap dan gaya guru, termasuk suara, mimik, dan gerak badan akan menunjukkan adanya kehangatan dan keantusiasan dalam memberikan penguatan. Hindari kepura-puraan atau tindakan penguatan yang mengada-ada.
B.     Kebermaknaan
Yakinkan pada diri siswa bahwa penguatan yang diberikan guru adalah penguatan yang wajar, sehingga benar-benar bermakna untuk siswa. Hindari penguatan yang berlebihan, sebab penguatan yang demikian justru akan mematikan motivasi siswa. Siswa hanya akan merasa direndahkan.
C.     Gunakan penguatan yang bervariasi
Penguatan yang sejenis dan dilakukan berulang-ulang dapat menimbulkan kebosanan sehingga tidak efektif lagi untuk membangkitkan motivasi belajar siswa. Oleh sebab itu, penguatan perlu dilakukan dengan teknik yang bervariasi.
D.    Berikan penguatan dengan segera
Penguatan perlu diberikan segera setelah muncul respons atau tingkah laku tertentu. Penguatan yang ditunda pemberiannya tidak akan efektif lagi dan kurang bermakna.

3.      Keterampilan Variasi Stimulus
Variasi stimulus adalah suatu kegiatan guru dalam konteks proses interaksi belajar-mengajar yang ditujukan untuk mengatasi kebosanan murid sehingga dalam situasi belajar-mengajar, murid senantiasa menunjukkan ketekunan, antusiasme, serta penuh partisispasi.
Adapun tujuan dan manfaat dari variasi stimulus yaitu.
a)      Untuk menimbulkan dan meningkatkan perhatian siswa kepada aspek-aspek belajar-mengajar yang relevan.
b)      Untuk memberikan kesempatan bagi berkembangnya bakat ingin mengetahui dan menyelidiki pada siswa tentang hal-hal baru.
c)      Untuk memupuk tingkah laku positif terhadap guru dan sekolah dengan berbagai cara mengajar yang lebih hidup dan lingkungan belajar yang lebih baik.
d)     Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh cara menerima pelajaran yang disenanginya.
Teknik-teknik yang dapat digunakan dalam melakukan variasi stimulus adalah sebagai berikut.
1.      Variasi pada Waktu Melaksanakan Proses Pembelajaran
A.    Penggunaan variasi suara (teacher voice)
Variasi suara adalah perubahan suara dari keras menjadi lembut, dari tinggi menjadi rendah, dari cepat berubah menjadi lambat, dari gembira menjadi sedih, atau pada suatu saat memberikan tekanan pada kata-kata tertentu.
B.     Pemusatan perhatian
Memusatkan perhatian siswa kepada hal-hal yang dianggap penting dapat dilakukan oleh guru. Misalnya dengan perkataan “Perhatikan ini baik-baik”, atau “Nah, ini penting sekali”, atau “Perhatikan dengan baik, ini agak sukar dimengerti”.
C.     Kebisuan guru
Adanya kebisuan yang tiba-tiba dan disengaja selagi guru menerangkan sesuatu merupakan alat yang baik untuk menarik perhatian siswa. Perubahan stimulus dari adanya suara kepada keadaan tenang atau senyap, atau adanya kesibukan atau kegiatan lalu dihentikan akan dapat menarik perhatian karena siswa ingin tahu apa yang terjadi.
D.    Mengadakan kontak pandang (eye contact)
Bila guru sedang berbicara atau berinterksi dengan siswanya, sebaiknya pandangan menjelajahi seluruh kelas dan melihat ke mata murid-murid untuk menunjukkan adanya hubungan yang intim dengan mereka. Kontak pandang dapat digunakan untuk menyamapaikan informasi dan untuk mengetahui perhatian atau pemahaman siswa.
E.     Gerak guru (teacher movement)
Variasi dalam ekspresi wajah guru, gerakan kepala, dan gerakan badan adalah aspek yang sangat penting dalam berkomunikasi. Gunanya untuk menarik perhatian dan untuk menyampaikan arti dari pesan lisan yang dimaksudkan.
2.      Variasi dalam Penggunaan Media dan Alat Peraga
Media atau alat peraga bila ditinjau dari indera yang digunakan, dapat digolongkan ke dalam tiga bagian, yakni dapat didengar, dilihat, dan diraba. Pergantian penggunaan jenis media yang satu kepada jenis yang lain mengharuskan anak menyesuaikan alat inderanya sehingga dapat mempertinggi perhatiannya karena setiap anak mempunyai perbedaan kemampuan dalam menggunakan alat inderanya. Ada yang termasuk tipe visual, auditif, dan motorik.
Variasi penggunaan media dan alat pembelajarn dapat dilakukan sebagai berikut:
A.    Dengan menggunakan variasi media yang dapat dilihat (visual) seperti menggunakan gambar, slide, foto, bagan, dan lain-lain.
B.     Variasi alat atau media yang bisa didengar (auditif) seperti menggunakan radio, musik, deklamasi, puisi, dan lain sebagainya.
C.     Variasi alat atau bahan yang dapat diraba, dimanupulasi, dan digerakkan (motorik). Pemanfaatan media semacam ini dapat menarik perhatian siswa, sebab siswa dapat secara langsung dapat membentuk dan memperagakan kegiatannya, baik secara perorangan maupun secara berkelompok. Yang termasuk ke dalam alat dan media ini adalah berbagai macam peragaan, model, dan lain sebagainya.
D.    Variasi alat atau bahan yang dapat didengar, dilihat, dan diraba. Penggunaan alat jenis ini merupakan tingkat yang paling tinggi karena melibatkan semua indera yang kita miliki. Yang termasuk ke dalam alat atau media ini adalah film, televisi, radio, slide projector yang diiringi penjelasan guru, tentu saja penggunaannya disesuaikan dengan tujuan pengajaran yang hendak dicapai.
3.      Variasi dalam berinteraksi
Pembelajaran adalah proses interaksi antara siswa dengan lingkungannya. Pola interaksi guru dengan murid dalam kegiatan belajar-mengajar sangat beraneka ragam coraknya, mulai dari kegiatan yang didominasi oleh guru sampai kegiatan sendiri yang dilakukan anak. Hal ini bergantung pada keterampilan guru dalam mengelola kegiatan belajar-mengajar. Penggunaan variasi pola interaksi ini dimaksudkan agar tidak menimbulkan kebosanan, kejemuan, serta untuk menghidupkan suasana kelas demi keberhasilan murid dalam mencapai tujuan.

4.      Keterampilan Menjelaskan
Yang dimaksud dengan keterampilan menjelaskan dalam pengajaran adalah penyajian informasi secara lisan yang diorganisasi secara sistentis untuk menunjukkan adanya hubungan yang satu dengan yang lainnya, misalnya antara sebab dan akibat, definisi dengan contoh atau dengan sesuatu yang belum diketahui. Pemberian penjelasan merupakan salah satu aspek yang amat penting dari kegiatan guru dalam interaksinya dengan siswa di dalam kelas. Dan biasanya guru cenderung lebih mendominasi pembicaraan dan mempunyai pengaruh langung, misalnya dalam memberikan fakta, ide, ataupun pendapat
Tujuan memberikan penjelasan adalah:
a.       Membimbing murid untuk mendapat dan memahami hukum, dalil fakta, definisi, dan prinsip secara objektif dan bernalar.
b.      Melibatkan murid untuk berpikir dengan memecahkan masalah-masalah atau pertanyaan.
c.       Untuk mendapat balikan dari murid mengenai tingkat pemahamannya dan untuk mengatasi kesalahpahaman mereka.
d.      Membimbing murid untuk menghayati dan mendapat proses penalaran dan menggunakan bukti-bukti dalam pemecahan masalah.
Komponen-komponen keterampilan menjelaskan yaitu.
a.       Merencanakan
Penjelasan yang diberikan oleh guru perlu direncanakan dengan baik, terutama yang berkenan dengan isi pesan dan penerimaan pesan. Yang berkenan dengan isi pesan (materi) meliputi penganalisaan masalah secara keseluruhan, penentuan jenis hubungan yang ada di antara unsur-unsur yang dikaitkan dan penggunaan hukum, rumus atau generalisasi yamg sesuai dengan hubungan yang telah ditentukan.
b.      Penyajian suatu penjelasan
Penyajian suatu penjelasan dapat ditingkatkan hasilnya dengan memperhatikan hal-hal berikut:
1.      Kejelasan
Penjelasan hendaknya diberikan dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh siswa, menghindari penggunaan ucapan-ucapan seperti “e”, “aa”, “mm”, “kira-kira”, “umumnya”, “biasanya”, “sering kali” dan istilah-istilah yang tidak dapat dimengerti oleh anak.
2.      Penggunaan contoh dan ilustrasi
Dalam memberikan penjelasan sebaiknya digunakan contoh-contoh yang ada hubungannya dengan sesuatu yang dapat ditemui oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari.
3.      Pemberian tekanan
Dalam memberikan penjelasan, guru harus memenuhi perhatian siswa kepada masalah pokok dan mengurangi informasi yang tidak begitu penting. Dalam hal ini guru dapat menggunakan tanda atau isyarat lisan seperti “Yang terpenting adalah”, “Perhatikan baik-baik konsep ini”, atau “Parhatikan, yang ini agak sukar”.
4.      Penggunaan balikan
Guru hendaknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan pemahaman, keraguan atau ketidakmengertiannya ketika penjelasan itu diberikan. Hal ini dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan seperti “Apakah kalian mengerti dengan penjelasan tadi?” Juga perlu ditanyakan, “Apakah penjelasan tadi bermakna bagi kalian?” dan sebagainya.

5.    Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
Membuka pelajaran atau set induction adalah usaha yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran untuk menciptakan prakondisi bagi siswa agar mental maupun perhatian terpusat pada pengalaman belajar yang disajikan sehingga akan mudah mencapai kompetensi yang diharapkan. Dengan kata lain, membuka pelajaran itu adalah mempersiapkan mental dan perhatian siswa agar terpusat pada hal-hal yang akan dipelajari.
Kegiatan membuka pelajaran tidak hanya dilakukan oleh guru pada awal jam pelajaran, tetapi juga pada awal setiap penggal kegiatan inti pelajaran yang diberikan selama jam pelajaran itu. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara mengemukakan tujuan yang akan dicapai, menarik perhatian siswa, memberi acuan, dan membuat kaitan antara materi pelajaran yang telah dikuasai oleh siswa dengan bahan yang akan dipelajarinya.
Secara khusus tujuan membuka pelajaran yaitu:
1)      Menarik perhatian siswa, yang bisa dilakukan dengan:
a.       Meyakinkan siswa bahwa materi atau pengalaman belajar yang akan dilakukan berguna untuk dirinya.
b.      Melakukan hal-hal yang dianggap aneh bagi siswa, misalnya dengan menggunakan alat bantu.
c.       Melakukan interaksi yang menyenangkan.
2)      Menumbuhkan motivasi belajar siswa, yang dapat dilakukan dengan:
a.       Membangun suasana akrab sehingga siswa merasa dekat, misalnya menyapa dan berkomunikasi secara kekeluargaan.
b.      Menimbulkan rasa ingn tahu, misalnya mengajak siswa untuk mempelajari suatu kasus yang sedang hangat dibicarakan.
c.       Mengaitkan materi atau pengalaman belajar yakan dilakukan dengan kebutuhan siswa.
3)      Memberikan acuan atau rambu-rambu tentang pembelajaran yang akan dilakukan dengan:
a.       Mengemukakan tujuan yang akan dicapai serta tugas-tugas yang harus dilakukan dalam hubungannya dengan pencapaian tujuan.
b.      Menjelaskan langkah-langkah atau tahapan pembelajaran, sehingga siswa memahami apa yang harus dilakukan.
c.       Menjelaskan target atau kemampuan yang harus dimiliki setelah pembelajaran berlangsung.
Menutup pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru untuk mengakhiri pelajaran dengan maksud untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang apa ang telah dipelajari siswa serta keterkaitannya dengan pengalaman sebelumnya, mengetahui tingkat keberhasilan siswa, serta keberhasilan guru dalam pelaksanaaan proses pembelajaran.
Menutup pelajaran dapat dilakukan dengan cara:
1.      Merangkum atau mebuat garis-garis besar persoalan yang baru dibahas, sehingga siswa memperoleh gambaran yang menyeluruh dan jelas tentang pokok-pokok persoalan.
2.      mengonsolidasikan perhatian siswa terhadap hal-hal yang pokok agar informasi yang telah diterima dapat membangkitkan minat untuk mempelajari lebih lanjut.
3.      mengorganisasikan kegiatan yang telah dilakukan untuk membentuk pemahaman baru tentang materi yang telah dipelajarinya.
4.      memberikan tindak lanjut serta saran-saran untuk memperluas wawasan yang berhubungan dengan materi pelajaran yang telah dibahas.

6.      Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
Diskusi kelompok adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan sekolompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan berbagai pengalaman atau onformasi, pengambilan kesimpulan, atau pemecahan masalah.
Komponen keterampilan membimbing diskusi yaitu:
1.      Memusatkan perhatian siswa pada tujuan dan topik diskusi caranya adalah sebagai berikut:
a.       Rumuskan tujuan dan topic yang akan dibahas pada awal diskusi.
b.      Kemukakan masalah-masalah khusus.
c.       Catat perubahan atau penyimpangan diskusi dari tujuan.
d.      Rangkum hasil pembicaraan dalam diskusi.
2.      Memperluas masalah atau urunan pendapat
Selama diskusi berlangsung sering terjadi penyampaian ide yang kurang jelas hingga sukar ditangkap oleh anggota kelompok, yang akhirnya menimbulkan kesalahpahaman hingga keadaan menjadi tegang. Dalam hal demikian tugas guru dalam memimpin diskusi untuk memperjelasnya, yakni dengan cara:
a.       Menguraikan kembali atau merangkum urunan tersebut hingga menjadi jelas.
b.      Meminta komentar siswa dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membantu mereka memperjelas atau mengembangkan ide tersebut.
c.       Menguraikan gagasan siswa dengan memberikan informasi tambahan atau contoh-contoh yang sesuai hingga kelompok memperoleh pengertian yang lebih jelas.
3.      Menganalisis pandangan siswa
Dalam diskusi sering terjadi perbedaan di antara anggota kelompok. Dengan demikian guru hendaklah mampu menganalisis alas an perbedaan tersebut dengan cara sebagai berikut:
a.       Meneliti apakah lasan tersebut memang mempunyai dasar yang kuat.
b.      Memperjelas hal-hal yang disepakati dan yang tidak disepakati.
4.      Meningkatkan urunan siswa
Beberapa cara unuk meningkatkan urunan pikiran siswa adalah:
a.       Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menantang siswa untuk berpikir.
b.      Memberikan contoh-contoh verbal atau nonverbal yang sesuai dan tepat.
c.       Memberikan waktu untuk berpikir.
d.      Memberikan dukungan terhadap pendapat siswa dengan penuh perhatian.
5.      Menyebarkan kesempatan berpartisipasi
Penyebaran kesempatan berpartisipasi dapat dilakukan dengan cara:
a.       Mencoba memancing urunan siswa yang enggang berpartisipasi dengan mengarahkan pertanyaan langsung secara bijaksana. Misalnya, “Bapak (Ibu) yakin bahwa Andi dapat menjawab. Coba, Andi!”
b.      Mencegah terjadinya pembicaraan serentak dengan memberi giliran kepada siswa yang pendiam terlebih dahulu.
c.       Mencegah secara bijaksana siswa yang suka memonopoli pembicaraan.
d.      Mendorong siswa untuk mengomentari urunan temannya hingga interaksi antarsiswa dapat ditingkatkan.
6.      Menutup diskusi
Keterampilan akhir yang harus dikuasai oleh guru adalah menutup diskusi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
a.       Membuat rangkuman hasil diskusi dengan bantuan para siswa. Ini lebih efektif daripada bila rangkuman hanya dibuat sendiri oleh guru.
b.      Memberi gambaran tentang tindak lanjut hasil diskusi ataupun tentang topik diskusi yang akan datang.
c.       Mengajak siswa untuk menilai proses maupun hasil diskusi yang telah dicapai.
7.      Hal-hal yang harus diperhatikan.
a.       Mendominasi diskusi sehingga siswa tidak diberi kesempatan.
b.      Membiarkan siswa tertentu memonopoli diskusi.
c.       Membiarkan terjaadinya penyimpangan dari tujuan diskusi dengan pembicaraan yang tidak relevan.
d.      Membiarkan siswa yang enggan berpartisipasi.
e.       Tidak memperjelas atau mendukung pendapat siswa.
f.       Gagal mengakhiri diskusi secara efektif.

7.      Keterampilan Mengelola Kelas
Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dengan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar-mengajar. Dengan kata lain, kegiatan-kegiatan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar-mengajar. Yang termasuk ke dalam hal ini misalnya penghentian tingkah laku siswa yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran bagi ketepatan waktu penyelesaian tugas oleh siswa, atau penetapan norma kelompok yang produktif.
Adapun komponen dari keterampilan mengelola kelas yaitu:
1.        Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat preventif)
Keterampilan ini berkaitan dengan kemampuan guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran serta kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan hal-hal tersebut yang meliputi keterampilan sebagai berikut:
A.    Menunjukkan sikap tanggap
Ketanggapan diarahkan agar kehadiran guru dalam kelas betul-betul dirasakan oleh siswa. Kesan ketanggapan dapat ditunjukkan dengan cara sebagai berikut.
                                                                   I.            Memberikan komentar baik terhadap materi pelajaran yang akan dipelajari maupun terhadap perilaku siswa. Komentar yang bersifat positif dan bisa menggugah perhatian siswa sangat diperlukan untuk membangun suasana yang optimal.
                                                                II.            Menjaga kontak mata, artinya setiap saat guru perlu memperhatikan siswa melalui pandangan secara terus-menerus.melalui pandangan itulah siswa akan merasa diperhatikan.
                                                             III.            Gerak mendekat, artinya guru perlu memberi perhatian khusus baik kepada individu maupun kepada kelompok. Gerak mendekat akan memberi kesan adanya perhatian guru terhadap aktivitas siwa, sehingga aj\akan membangun suasana akrab dan bersahabat antara guru dan siswa. Di samping itu, gerak mendeka juga bisa dilakukan untuk mengembalikan kondisi belajar siswa, misalnya gerak mendekat pada siswa yang berperilaku menganggu.
B.     Memusatkan perhatian
Pemusatan perhatian dapat dilakukan dengan:
                                                                   I.            Memberikan ilustrasi-ilustrasi secara visual, misalnya dengan mengalihkan pandangan dari satu kegiatan ke kegiatan lain tanpa memutuskan kontak pandang baik terhadap kelompok maupun terhadap individu siswa.
                                                                II.            Memberikan komentar secara verbal melalui kalimat-kalimat yang segar tanpa keluar dari konteks materi pelajaran yang sedang dibahas.
C.     Memberikan peunjuk dan tujuan yang jelas
Siswa akan belajar dengan perhatian penuh manakalamamahami tujuan yang harus dicapai serta mengerti apa yang harus dilakukan. Sering terjadi kurangnya konsentrasi disebabkan ketidakpahaman terhadap arah dan sasaran yang akan dicapai.
D.     Memberi teguran dan penguatan
Teguran diperlukan sebagai upaya memodifikasi tingkah laku. Teguran verbal yang efektif adalah yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
                                                                   I.            Tegas dan jelas tertuju kepada siswa yang mengganggu serta kepada tingkah lakunya yang menyimpang.
                                                                II.            Menghindari peringatan yang kasar dan menyakitkan atau yang mengandung penghinaan.
                                                             III.            Menghindari ejekan, lebih-lebih yang berkepanjangan.
Dalam memberi penguatan, guru dapat menggunakan dua cara berikut.
                                                                     I.            Guru dapat memberikan penguatan kepada siswa yang mengganggu, yaitu dengan jalan “menangkap” siswa tersebut ketika ia sedang melakukan tingkah laku yang tidak wajar, kemudian menegurnya.
                                                                  II.            Guru dapat memberikan penguatan kepada siswa yang bertingkah laku wajar dengan demikian menjadi contoh atau teladan tentang tingkah laku positif bagi siswa yang suka mengganggu.
2.       Keterampilan yang berhubungan dengan pengembalian kondisi belajar yang optimal
Keterampilan ini berkaitan dengan respons guru terhadap gangguan siswa yang berkelanjutan dengan maksud agar guru dapat mengadakan tindakan remedial untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal. Apabila terdapat siswa yang menimbulkan gangguan yang berulang-ulang walaupun guru telah menggunakan tingkah laku dan respons yang sesuai, guru dapat meminta bantuan kepada kepala sekolah, konselor sekolah, atau orang tua siswa.
Pada tingkat tertentu guru dapat menggunakan seperangkat strategi untuk tindakan perbaikan terhadap tingkah laku siswa yang terus menerus menimbulkan gangguan dan yang tidak mau terlibat dalam tugas di kelas. Strategi tersebut adalah:
1)      Modifikasi tingkah laku. Guru hendaknya menganalisis tingkah laku siswa yang mengalami masalah atau kesulitan dan berusaha memodifikasi tingkah laku tersebut dengan mengaplikasikan pemberian penguatan secara sistematis.
2)      Guru dapat menggunakan pendekatan pemecahan masalah kelompok dengan cara:
a.       Memperlancar tugas-tugas untuk mengusahakan terjadinya kerja sama yang baik dalam pelaksanaan tugas.
b.      Memelihara kegiatan-kegiatan kelompok, memelihara dan memulihkan semangat siswa dan menangani konflik yang timbul.
c.       Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah. Guru dapat menggunakan seperangkat cara untuk mengendalikan tingkah lku keliru yang muncul, dan ia mengetahui sebab-sebab dasar yang mengakibatkan ketidakpatutan tingkah laku tersebut serta berusaha untuk menemukan pemecahannya.
Dalam usaha mengelola kelas secara efektif ada sejumlah kekeliruan yang harus dihindari oleh, yaitu sebagai berikut:
a.       Campur tangan yang berlebihan (teachers instruction)
Apabila guru menyela kegiatan yang sedang asyik berlaangsung dengan komentar , pertanyaan, atau petunjuk yang mendadak, kegiatan itu akan terganggu atau terputus. Hal ini akan memberi kesan kepada siswa bahwa guru tidak memperhatikan keterlibatan dan kebutuhan anak. Ia hanya ingin memuaskan kehendak sendiri.
b.      Kelenyapan (fade away)
Hal ini terjadi jika guru gagal secara tepat melengkapi suatu instruksi, penjelasan, petunjuk, atau komentar, dan kemudian menghentikan penjelasan atau sajian tanpa alas an yang jelas. Juga dapat terjadi dalam bentuk waktu diam yang terlalu lama, kehilangan akal, atau melupakan langkah-langkah dalam pelajaran. Akibatnya ialah membiarkan pikiran siswa mengawang-awang, melantur, dan mengganggu keefektifan serta kelancaran pelajaran.
c.       Ketidaktepatan memulai dan mengakhiri kegiatan (stops and starts)
Hal ini dapat terjadi bila guru memulai suatu aktivitas tanpa mengakhiri aktivitas sebelumnya, menghentikan kegiatan pertama, memulai yang kedua, kemudian kembali kepada kegiatan yang pertama lagi. Dengan demikian guru tidak dapat mengendalikan situasi kelas dan akhirnya mengganggu kelancaran kegiatan siswa.
d.      Penyimpangan (digression)
Akibat guru terlalu asyik dalam suatu kegiatan atau bahan tertentu memungkinkan ia dapat menyimpang. Penyimpangan tersebut dapat mengganggu kelancaran kegiatan belajar siswa.
e.       Bertele-tele (overdwelling)
Kesalahan ini terjadi bila pebicaraan guru bersifat mengulang hal-hal tertentu, memperpanjang keterangan atau penjelasan, mengubah teguran yang sederhana menjadi ocehan atau kupasan yang panjang.

8.      Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perseorangan
Secara fisik bentuk pengajaran ini ialah bila jumlah siswa yang dihadapi oleh guru terbatas, yakni berkisar antara 3 – 8 orang untuk kelompok kecil dan seorang guru unuk perseorangan. Guru menghadapi banyak siswa yang terdiri dari beberapa kelompok yang dapat bertatap muka, baik secara perseorangan maupun secara berkelompok.
Peran guru dalam pengajaran ini adalah sebagai:
1.      Organisator kegiatan belajar mengajar
2.      Sumber informasi  (nara sumber) bagi siswa
3.      Motivator bagi siswa untuk belajar
4.      Penyedia materi dan kesempatan belajar (fasilitator) bagi siswa
5.      Pembimbing kegiatan belajar siswa (konselor)
6.      Peserta kegiatan belajar
Pengajaran kelompok kecil dan perseorangan memungkinkan guru memberikan perhatian terhadap setiap siswa serta terjadinya hubungan yang lebih akrab antara guru dan siswa maupun antara siswa dengan siswa. Pengajaran ini memungkinkan siswa belajar lebih aktif, memberikan rasa tanggung jawab yang lebih besar, serta dapat memenuhi kebutuhan siswa secara optimal.
Kombinasi pengajaran klasikal, kelompok kecil, dan perseorangan memberikan peluang yang besar bagi tercapainya tujuan pengajaran. Dengan demikian, penguasaan keterampilan mengajar kelompok kecil dan perseorangan merupakan satu kebutuhan yang esensial bagi setiap calon guru dan guru profesional. Hal-hal yang perlu diperhatikan:
1.      Bagi guru yang sudah terbiasa dengan pengajaran klasikal, sebaiknya dimulai dengan pengajaran kelompok, kemudian secara bertahap mengarah kepada pengajaran perseorangan. Sedangkan bagi calon guru sebaiknya dimulai dengan pengajaran perseorangan, kemudian secara bertahap pengajaran kelompok kecil.
2.      Tidak semua topik atau pokok bahasan dapat dipelajari secara efektif dalam kelompok kecil maupun perseorangan. Hal-hal yang bersifat umum seperti pengarahan informasi umum sebaiknya diberikan dalam bentuk kelas besar.
3.      Dalam pengajaran kelompok kecil, langkah pertama adalah mengorganisasi siswa, sumber, materi, ruangan, serta waktu yang diperlukan, dan diakhiri dengan kegiatan kulminasi yang dapat berupa rangkuman, pemantapan atau laporan.
4.      Dalam pengajaran perseorangan guru harus mengenal siswa secara pribadi sehingga kondisi belajar dapat diatur.
5.      Kegiatan dalam pengajaran perorangan dapat dilakukan melalui paket belajar atau bahan yang telah disiapkan oleh guru.
Komponen-komponen keterampilan antara lain:
1.      Keterampilan mengadakan pendekatan secara pribadi
Salah satu prinsip pengajaran kelompok kecil dan perseorangan adalah terjadinya hubungan yang akrab dan sehat antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Hal ini dapat terwujud bila guru memiliki keterampilan berkomunikasi secara pribadi yang dapat diciptakan antara lain dengan:
a.       Menunjukkan kehangatan dan kepekaan terhadap kebutuhan siswa baik dalam kelompok kecil maupun perseorangan.
b.      Mendengarkan secara simpatik ide-ide yang dikemukakan oleh siswa.
c.       Memberikan respon positif terhadap buah pikiran siswa.
d.      Membangun hubungan saling mempercayai.
e.       Menunjukkan kesiapan untuk membantu siswa.
f.       Menerima perasaan siswa dengan penuh pengertian dan terbuka.
g.      Berusaha mengendalikan situasi hingga siswa merasa aman, penuh pemahaman, dan dapat memecahkan masalah yang dihadapinya.
2.      Keterampilan mengorganisasi
Selama kegiatan kelompok kecil atau perseorangan berlangsung, guru berperan sebagai organisator yang mengatur dan memonitor kegiatan dari awal sampai akhir. Dalam hal ini guru memerlukan keterampilan sebagai berikut:
a.       Memberikan orientasi umum tentang tujuan dan tugas yang akan dilakukan.
b.      Menvariasikan kegiatan yang mencakup penyediaan ruangan, peralatan, dan cara melaksanakannya.
c.       Membentuk kelompok yang tepat.
d.      Mengoordinasikan kegiatan.
e.       Membagi perhatian kepada  berbagai tugas dan kebutuhan siswa.
f.       Mengakhiri kegiatan dengan laporan hasil yang dicapai oleh siswa.
3.      Keterampilan membimbing dan memudahkan belajar
Keterampilan ini memungkinkan guru membantu siswa untuk maju tanpa mengalami frustasi. Hal ini dapat dicapai bila guru memiliki keterampilan berikut.
a.       Memberikan penguatan yang merupakan dorongan yang penting bagi siswa untuk maju.
b.      Mengembangkan supervisi proses awal, yakni sikap tanggap guru terhadap siswa baik individu maupun kelompok yang memungkinkan guru mengetahui apakah segala sesuatu berjalan lancar sesuai dengan yang dihadapkan.
c.       Mengadakan supervisi proses lanjut yang memusatkan perhatian pada penekanan dan pemberian bantuan ketika kegiatan berlangsung.
d.      Mengadakan supervisi pemanduan yang memusatkan perhatian pada penilaian pencapai tujuan dari berbagai kegiatan yang dilakukan dalam rangka menyiapkan rangkuman dan pemantapan sehingga siswa saling belajar dan memperoleh wawasan yang menyeluruh. Ini dilakukan dengan mendatangi kelompok, menilai kemajuannya, dan menyiapkan mereka untukmengikuti kegiatan akhir cara yang efektif. Untuk maksud ini ialah mengingatkan siswa akan waktu yang masih tersisa untuk menyelesaikan tugas.
4.      Keterampilan merencanakan dan melaksnakan kegiatan belajar-mengajar
Keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar mencakup:
a.       Membantu siswa menetapkan tujuan pelajaran dan menstimulasi siswa untuk mencapai tujuan tersebut.
b.      Merencanakan kegiatan belajar bersama siswa yang mencakup kriteria keberhasilan, langkah-langkah kerja, waktu, serta kondisi belajar.
c.       Bertindak atau berperan sebagai penasihat bagi siswa bila diperlukan.
d.      Membantu siswa menilai pencapaian dan kemajuannya sendiri. Ini berarti memberi kesempatan kepada siswa untuk memperbaiki dirinya sendiri yang merupakan kerja sama guru dengan siswa dalam situasi pendidikan yang manusiawi.

e.       Untuk keempat keterampilan tersebut di atas ternyata ada keterampilan dasar yang sebelumnya harus dikuasai guru, yaitu keterampilan bertanya, memberi penguatan, mengadakan variasi, dan menjelaskan. Dengan demikian, keterampilan mengajar serta membimbing kelompok kecil dan perseorangan merupakan keterampilan yang kompleks.